Glodok Chinatown, Kawasan Pecinan Jakarta

glodok-chinatownSebagai kota penting sejak zaman dahulu membuat Jakarta memiliki sejumlah kawasan tua yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Jakata. Selain Setu Babakan yang merupakan perkampungan asli betawi, Jakarta juga memiliki kawasan Pecinan yang bernama Glodok. Kawasan yang berada di Kecamatan Taman Sari Jakarta Barat ini termasuk dalam kawasan kota tua Jakarta dan cukup populer di kalangan warga Jakarta. Kawasan Glodok tidak hanya terkenal sebagai pusat kegiatan ekonomi yang senantiasa ramai dengan transaksi bisni namun juga karena di daerah ini anda bisa menemukan jejak sejarah etnis Tinghoa di Jakarta. Bagaimanapun sejarah kota Jakarta tak terlepas dari keberadaan para etnis Tionghoa yang dibutikan dengan keberadaan sejumlah bangunan dari masa lampau yang menunjukkan kejayaan masa itu. Kawasan Glodok juga dikenal dengan kehidupan malamnya, baik yang legal hingga yang terselubung.

kawasan glodok tahun 1948Kawasan Glodok telah ada sejak lama bahkan sebelum pemerintahan Hindia Belanda. Bersama dengan kampung tua yang lain, kawasan Glodok berdiri di sepanjag aliran Sungai Ciliwung. Di tahun 1740 terjadi pemberontakan kaum Tionghoa pada tahun 1740 yang disebut dengan Geger Pacinan. Tak kurang 20.00 warga Tionghoa menjadi korban hingga aliran sungai Kali Angke yang berdekatan dengan Glodok berubah warna menjadi merah karena darah. Kemudian pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan peraturan bernama Wijkenstelsel yang melarang etnis Tiongoa tingal di dalam tembok kota dan hanya boleh tinggal di kawasan Glodok. Hal ini juga dimaksudkan untuk kemudahan mereka dalam mengawasi pergerakan etnis Tionghoa. Dan sejak saat itu Glodok berubah menjadi Pecinan dan pusat perdagangan.

kue tradisional tionghoaDalam sejarah asal muasal nama Glodok memiliki banyak versi. Yang pertama menyebutkan bahwa kata Glodok berasal dari Bahasa Sunda “Golodok” yang berarti pintu masuk rumah. Hal ini dikaitkan dengan fungsi Sunda Kelapa yang menjadi pintu masuk ke Kerajaan Sunda sebelum dikuasai Belanda. Sedangkan dalam buku “Betawi: Queen from The East” disebutkan bahwa nama Glodok berasal dari bunyi air “grojok-grojok” di daerah tersebut yang memang digunakan untuk pemberhentian dan pemberian air minum kuda penarik beban.  Air tersebut berada dalam bangunan persegi delapan di tengah-tengah halaman gedung Balai Kota (Stadhuis). Pancuran air tersebut yang kemudian dijadikan orang sebagai nama daerah di Jakarta “Pancoran” atau jika orang Jakarta menyebutnya sebagai Glodok Pancoran.

Nah, jika anda tertarik untuk menelusuri jejak sejarah etnis Tionghoa di Jakarta, kawasan ini patut anda kunjungi karena banyak bangunan bersejarha yang masih bisa kita temui, misalnya:

de groot kanal1. De Groot Kanaal (Kalibesar)

Banyaknya rawa yang dimiliki kota Batavia kala itu mendorong pemerintah Belanda membuat kanal untuk melindungi dari banjir dan juga alur pelabuhan untuk kapal-kapal kecil. Salah satu kanal yang dibangun adalah De Groot Kanaal atau Kalibesar yang kerpa digunakan lomba sampan atau Peh Cun oleh masyarakat Tionghoa. Di tahun 1950-an, kanal ini juga menjadi tempat mandi dan mencuci oleh penduduk sekitar.

2. Toko Merah

toko merahBangunan ini berada di sisi Kali Besar, tepatnya Kali Besar Timur V, yang dibangun oleh Gubernur Jendral VOC, Gustaff Baron Van Imhoff, di tahun 1730. Gubernur ini merupakan salah satu tokoh yang menolak pembantaian terhadap etnis Tionghoa. Di tahun 1743, gedung ini menjadi Akademi Maritim sekaligus asrama para kadet yang dilatih. Selanjutnya menjadi kantor perusahaan Jacobson Van Den Berg dan sekarang sebagai kantor PT Dharmaniaga.

Klenteng_Jin_De_Yuan,_Glodok,_Jakarta3. Toko Obat Lay An Tong, yang hingga kini bentuk bangunannya tak berubah sama sekali. Besar bangunannya menunjukkan toko ini dahulunya sangat berjaya. Namun kini toko tersebut tidak digunakan sebagai toko obat lagi.

4. Kelenteng Kim Tek Ie (Jin de Yuan)

Kelenteng tua ini digunakan untuk menyembah Dewi Kwan Im (Guan Yin) dan didirikan oleh Luiteneant Tionghoa Guo Xun Guan (Kwee Hoen) di tahun 1650. Kelenteng ini pun tak luput dari peristiwa Geger Pacinan yang kemudian dibangun kembali oleh Kapitein Tionghoa dan berganti nama menjadi Kim Tek Ie (Jin De Yuan) yang Kelenteng Kebajikan Emas.

geraja-santa-maria-fatima15. Gereja Santa Maria Fatima

Pada awalnya bangunan gereja ini merupakan rumah seorang Luitenant der Chinezen bermarga Tjioe. Karenanya gereja ini pun dahulunya hanya digunakan para pejabat Tionghoa dan menggunakan bahasa Tionghoa dalam pelayanannya. Namun kini sudah melayani bahasa Indonesia dan Tionghoa.

Karenanya jika anda penasaran dengan sejarah etnis Tionghoa di Jakarta, kawasan ini patut anda kunjungi. Anda juga bisa mencoba kuliner khas Tionghoa yang banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional, seperti kue kura-kura, kue bulan, dan yang lainnya. Banyak pula ornamen khas Tionghoa yang bisa anda dapatkan untuk melengkapi furniture di rumah anda. Jadi jangan lewatkan tour Jakarta dan menikmati suasana Pecinan ala Glodok Chinatown.

Refrensi:

  • https://lisasuroso.wordpress.com/2007/07/04/jakarta-china-town-jejak-sejarah-tionghoa-di-jakarta/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Glodok

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *